Kamis, 24 April 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

SUN RISE Page3

"pagi pak. ini..."
"salam dulu donk Dim. ini udah berapa kali saya ingetin, lain kali jangan lupa lagi. ulang dulu baru saya cek"
"hehe. maaf pak. assalamu'alaikum"
"wa'alaikumsalam. masuk!"
"ini pak, berkas-berkas yang harus bapak tanda tangan yang kemarin bapak minta slip gajinya".
"ok. cepet juga ya. makasih ya Dim. coba saya lihat sebentar. oh ya, orangnya masih di depan?"
"masih pak. tadi saya suruh tunggu takut-takut kalo ada yang kurang".
"namanya....Pak Marzuki.." deg. jantung w langsung sakit liat nama yang yang tertera di lembaran perjanjian itu. apa jangan-jangan.
"mben. kenapa?" w baru sadar, kalo dari tadi Rey udah ada di ruangan w. emang pak Burhan sengaja menempatkan Rey satu ruangan, biar enak aja pelatihannya katanya.
"oh, gapapa Rey. cuman kaget aja. jangan-jangan ini bapaknya Piyu" w gak sadar, seketika wajah Rey agak curiga. perhatian w terfokus sama biodata pak Marzuki.
"liat aja dulu. bener apa nggak"
"iya pak, bapak gak liat dulu biar mastiin?"
"gak, gak usah. nanti aja. ini Dim berkasnya udah saya tanda tanganin"

siang itu pikiran w kemana-mana. makan siang bareng Rey pun jadi hambar rasanya. pak Marzuki...buat apa coba dia minjem uang ke bank? terlalu bingung sama pikiran, w sampe gak konsen sama perbincangan kita berdua "kamu kenapa mben? kayaknya bingung gitu. sampe-sampe aku dicuekin"
"oh. maaf Rey. aku cuma lagi mikirin kenapa pak Marzuki sampe minjem uang ke bank"
"mikirin pak Marzuki apa anaknyaa..???" w sampe gak sadar, kalo dia emang bapaknya Piyu. tapi kenapa Rey nanya gitu?
"nggak kok. siapa juga mikirin Piyu"
"emang berapa sih dia minjemnya"
"250jt Rey"
"wow. banyak juga ya"
"besok kamu mau temenin aku?
"kemana?"
"besok aku mau nganterin surat-suratnya pak Marzuki"
"hayooo. kenapa gak Dimas aja"
"gapapa. sekalian silaturahmi. udah lama gak kesana" udah 7 tahun aku gak ke rumahnya. ke rumah Piyu
"kamu mau kan Rey"
"yaudah. tapi aku anggap ini latihan aku loh?"
"iya iya.."

sampai saat itu, aku masih belom bisa nebak raut wajah Rey yang terus merhatiin aku. aku gak tau harus timbul pertanyaan seperti apa. karena, aku berusaha mencoba menulis hidupku yang baru lagi. setelah semua hilang. ya. hilang

Sabtu, 12 April 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

SUN RISE Page2

"jadi, kamu sekarang tinggal dimana Rey?"
"kita jadi ngomong aku-kamu gini mben, kan udah gak dikantor"
"hehehe, maaf. soalnya udah kebiasaan sih"
malam itu, aku ngajak Rey untuk makan malam berdua. yaaah, walau cuma sebatas makan biasa tapi yang luar biasanya aku makannya di rumah. mungkin sekalian kenalin dikit-dikit sama Umi. hehe

"De, katanya mau masak?" emang aku sengaja malam itu aku ajak ke rumah. Umi ku suka begitu. sedikit-sedikit kalo ada cewe dateng langsung ditanya macem-macem
"jadi, kamu kenal sama chaidir dimana Rey?" pertanyaan pertama
"jadi gini tante..."
"tante? panggil aja ibu atau umi. biar lebih akrab. kesannya kali manggil tante udah kayak suka arisan.hehe"
"haha. iya Mi, awalnya emang kita satu sekolah dulu di pondok. tapi ya cuman sebatas kenal nama gak kenal orangnya. kenal orangnya itu pas satu nasib kuliah di luar kota"
"ooowh. gitu toh. pantesan selama ini umi gak pernah denger chaidir cerita tentang kamu"

"umi, dede kan jadi malu diobrolin gitu" aku datang sambil bawa makanan Golden Fillet egg buatan sendiri.
"umi orangnya emang gitu Rey, semenjak aku udah diterima kerja, dan setelah dikira mapan. aku ditanyain mulu kapan mau nikah? nanti kalo aku nikah siapa yang jagain umi. ya kan Rey?"
"iya mi, nanti siapa yang jagain umi nanti?"
"kan ada Rey yang jagain umi, kamu belom punya pacar kan?" suasana gak enak langsung. w langsung kaget ibu w ngomong gitu. padahal baru pertama kali ketemu juga sama Rey
"hmm.belom mi"
"dari pada mikirin kapan nikah dan kapan pacaran. mending kita langsung tancap ni makanan"
Golden Fillet egg dengan irisan daging sapi asap dikelilingi oleh panggangan telur bebek dengan dibaluri saus teriyaki yang udah mulai dingin pun habis seketika.

"hmmh. akhirnya berhasil juga nyobain masakan buatan kamu mben"
"maksudnya Rey?"
"ya kan kamu dulu bilang mau masakin masakan yang enak buat aku"
"tuh kan, bener firasat umi. hayoooo kapan tuh de?"
"ah, itu udah lama mi. kira2 empat tahun yang lalu"

makan malam itu sudah lama banget nggak umi rasain sejak lama. semenjak kaka-kaka sibuk. ya yang nemenin umi makan dan ngobrol ya aku sendiri. tapi entah kenapa malam ini terlalu berbeda bagi umi karena adanya Rey dalam meja kita. bahagia, itu yang aku lihat dari umi malam ini. aku pun juga

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

SUN RISE Page1

aaah. jadi itu semua hanya mimpi. tapi mengapa begitu terasa nyata. Dirinya, senyumnya, cemberutnya sampai cubitannya pun aku sampai merasakan sensasi gigitan semut di pipiku. malam ini aku terbangun oleh mimpi yang sama lagi selama tiga hari ini, sudah seperti main film aja bersama dia. tapi kenapa harus dia?

tak mau terbawa perasaan yang telah hilang, aku berjalan menyusuri ruang keluarga, terpampang foto kecil ku bersama kaka-kaka ku di dinding berwarna putih itu. aku menuju ke mushola keluarga, teringat bayang-bayang ayahku yang mendesain ini semua, kain Persia dengan bulu bludru biru dongker yang halus terbentang lebar dilantai marmer putih. ku mulai ambil air wudhu untuk bersujud kepada-Nya disepertiga malam ini.

tak terasa waktu menunjukkan pukul 04.30, "Mi, bangun. sholat jama'ah yuk?" yup, aku masih tinggal bersama orang tuaku, secara tempat kerja ku dekat dengan rumah, sekalian ngejagain ibuku yang menginjak usia 70, tak terasa dia sudah setua itu dibandingkan dengan semangatnya untuk mengajar diriku tidak ada apa-apanya "makasih ya de, udah dibangunin. kok umi gak dibangunin sekalian tadi tahajudnya?"
"iya, tadi soalnya ngeliat umi tidurnya nyenyak banget. kan seharian kemaren udah pergi kemana-mana"
"yaudah, yuk sholat".
pagi itu sudah kewajiban ku sebagai anak terakhir untuk menjaga ibuku. kaka-kaka semua udah sibuk masing-masing dengan keluarganya. pagi itu aku masakin nasi goreng kesukaan umi dan secangkir teh pahit anget, eiits gak lupa obat-obatnya.

maaf, aku lupa memperkenalkan diri. namaku Chaidir Ali, 24 tahun. saat ini alhamdulillah aku sudah bekerja di salah satu lembaga keuangan di Jakarta-Barat tepatnya di depan rumah aku.hehehe,  biar murah ongkosnya. bisa dibilang 2 tahun aku sudah diterima kerja, sekalian nabung-nabung sedikit untuk membuka restoran impian diriku dan kakak ku dan tentu saja umi.  jabatan yang aku pegang dikantor adalah Manager Legal Officer, bisa dibilang yang ngurusin semua surat-surat perjanjian yang dibuat antara pihak nasabah dan perusahaan

pukul 06.30 aku ijin pamit untuk pergi ngantor.
sedikit bocoran, untuk yang satu ini aku orangnya deg-degan kalo udah telat. lebih baik kecepetan 3 jam dari pada telat 3 menit. yaah, itung-itung contoh buat bawahanku sih.

perjalanan w bisa dibilang alhamdulillah lancar dalam urusan kantor. semua berkat izin Allah dan ridho Umi untuk bekerja disini. 3 bulan aku ditraining untuk urusan kantor. setelah 3 bulan itu aku mulai bekerja, tapi bukan seperti sekarang. aku masih ditugasin dibawah bagian personalia. nah, ceritanya waktu ada masalah di kantor antara nasabah yang nuntut sama perjanjian yang dia buat eeeeh ilmu w keluar sendiri. w kasih tau ke temen w yang ngurusin tu nasabah. bla bla bla bla bla, mulai dari pasal, undang-undang, sampai ke DSN-MUI w keluarin tuh dasar hukumnya. mungkin emang jalannya, yaudah mungkin emang dinilai sanggup dan kebetulan Manager yang lama udah satu minggu pindah tugas, aku deh yang disuruh buat ngisi jabatan itu yang kosong "Pak, ada dokumen-dokumen yang harus bapak liat untuk di revisi."
"oh, iya. silahkan duduk dulu" salah satu bawahan w. hehe
"ini pak. tentang nasabah yang mau peminjaman kredit rumah"
"hmhmh..ok ok. baik. kalo diliat-liat, dia belum nyerahin kwitansi gajinya 3 bulan terkahir nih. masih ada yang kurang. kalo ternyata beda sama yang dia tulis kan repot ya Dim" namanya Dimas, dia baru 2 bulan kerja di kantor ini, tapi udah baik kerjanya.
"oh iya pak, nanti saya tanyakan, hmhmh. Pak Chaidir udah tau kalo ada karyawan baru hari ini?"
"karyawan baru? belum tuh. siapa?"
"saya masih belum tau sih pak, tapi katanya seumuran sama bapak. kali aja jodoh, kan bapak belum punya pacar kayaknya tuh".
"becanda kamu Dim. yaudah cek dulu sana, mungkin tuh anak nanti dikenalin pas rapat kali. jangan lupa itu minggu ini harus udah selesai."
"baik pak"

hmhm. siapa ya? ah, gak mungkin w kenal. masa dunia sesempit itu sih. mungkin nanti dia...
"pak Chaidir, satu jam lagi rapat dimulai pak. kata pak Burhan semuanya jangan sampe telat".
"oh, makasih ya Nis" dia asisten ku, kalo Pak Burhan itu kepala cabang kantor ku.

rapat
"ok, jadi seperti yang saya bilang kemungkinan ada beberapa keryawan yang akan dipanggil tugas di kantor pusat" yes, ini kesempatan w buat naik gaji.hahahaha
"tapi, sebelum itu" pak Burhan terus aja ngomong " Chaidir"
"iya pak?" kenapa nih.
"hari ini kita ada keluarga baru di kantor ini, dia wanita, umurnya 24 sama kayak Chaidir. nah, bapak minta selama 3 bulan ini, kamu jaga dia, kamu training dia setelah itu kasih bapak laporannya tentang dia. kamu siap?"
"tapi pak, kenapa harus saya? bukannya training itu gak bisa jadi karyawan dulu. saya dulu gitu pak" w bingung kenapa harus w
"gpp, soalnya dia berpengalaman di lembaga keuangan kayak kita. tapi bukan Bank. dan bapak minta dia untuk jadi legal officer juga, kan kamu Managernya jadi ya tanggung jawab kamu".
"terus orangnya mana pak?"
"nanti bapak suruh menghadap kamu langsung"
"baik pak"

habis sholat dzuhur w menuju ruangan w sembari nunggu tuh cewe yang super lama banget. katanya setelah rapat, malah ini sampe jam segini belom dateng-dateng juga. sambil ngecek surat-surat perjanjian ada suara ketuk "tok tok"
"iya, masuk" w gak liat kearah tuh pintu, masih sibuk
"maaf pak saya..."
"salamnya mana? ulang sana, udah kayak anak baru aja kamu Nis"
"assalamu'alaikum. pak saya..."
"hmhmhm, Nis, coba kamu tanya Dimas..." w kaget, gak percaya..
"Rey...??"
"loh, ngapain lo disini, mben?" w bengong aja, tapi biar jaga image dikit.
"ooowh, jadi kamu "keluarga" baru yang kata pak Burhan itu. lama banget!!" ternyata dia...
"iya mben, tadi rencana langsung...loh loh, jadi lu atasan w?"
"manggilnya bapak dooonk. aku atasan kamu sekarang"
"yaah, kalo tau gitu..."
"tau gimana?"
"eh, gak jadi.hehe"

siang itu, bukannya briefing tentang training, aku malah asik liatin wajahnya ketika dia berbicara banyak selama 4 tahun kita gak ketemu. untuk kedua kalinya, aku merasa ingin menjaganya.

Rain, nama yang sanggup membuat hati ini bergetar.