keesokannya...
karena w tau pagi ini Piyu mau UTS, akhirnya w berencana nelpon dia siang-siang. pas habis zuhur, lagi jalan mau ke asrama w telpon lah dia "hallo, assalamu'alaikuuum Piiiii. gimana Uts-nya? Lancar"
"lancar..." dengan nada yang datar dia jawab apa adanya...
"kalo lancar, kenapa suara kamu begitu, kayak gak semangat banget" w mencoba untuk menemukan apa yang salah.
"nggak, gak kenapa?" lagi-lagi ada apa ini. pasti ada yang salah. tapi kenapa?
"kalo aku boleh tebak nih ya, muka kamu lagi cemberut sekarang, ayo dong ceritaaaa" w mencoba lagi dan lagi.
"nggak ga apa apa al. serius deh" oke akhirnya percakapan kita siang ini berjalan sedikit aneh dari biasanya.
jujur setelah itu pikiran w terus bertanya-tanya kenapa ini? ada apa ini? kenapa suara dia lemes banget. pasti ada sesuatu yang buat dia begitu. dan betul, seminggu kemuidian ketika buku catatan kita dateng lagi ke w. w menemukan di bagian belakang (agak belakang) nyempil tulisan dari dia, mungkin sengaja biar w gak ngebaca kali ya yang intinya tebakan w bener, siang itu dia lagi kesel, males, dongkol, gondok, bad mood pokonya campur aduk gara-gara w nelpon di hari ulang tahunnya dia cuman beberapa menit. dan dia berharap lama. sampe-sampe dia bilang "aku tuh habis kamu tutup malahan gak bisa tidur 2 jam. aku tuh bertanya-tanya, kenapa kamu nelponnya sebentar? kamu bilang karena gak mau ganggu tidur aku karena besoknya UTS, tapi aku mau ngobrol panjang sama kamu, eh kamunya malah sebentar. aku paham al, kamu gak mau ganggu, tapi..."
pas w baca itu tulisan, rasanya w mau ke stasuin, beli tiket matarmaja, nyampe jakarta w langsung ke rumahnya, bawa kado kalo bisa sekalian nginep dah di sana biar full day 24 hours w bisa dengerin ceritanya.
w cuman mau bilang ke kalian anak muda, bahwa sebenernya jika kalian menemukan wanita yang menurut kalian istimewa, kalian harus terlebih dahulu mengetahui letak bahagianya wanita kalian dimana. jadi kalian melangkah pun membuat dia bahagia. kalo cerita Piyu ini yang bisa w bilang ke kalian, kebahagiaan dia sederhana, cukup w bisa dengerin ceritanya, curhatnya, marahnya, ketawanya walaupun itu di telpon itu udah cukup bagi dia. karena dari awal dia udah mengerti w jauh ke malang untuk belajar.
jadi ketika w putus ama dia (ceritanya nanti, makanya tetep pantengin ye). yang pada awalnya w anggap ini keputusan yang sulit w ambil tapi w harus jalani, w dibilang egois ama temen w, katanya "emang lu kira, apa yang lu pikir itu sakit menurut lu, itu juga buat dia sakit? kali aja kebahagiaan dia itu gak berlebihan, hanya denger lu sehat, hanya denger lu di telpon bisa buat dia bahagia. gimana?" bener juga kata temen w.
w terlalu egois. tapi karena itu w mencoba untuk memahami wanita sedalam-dalamnya...
see you next time ya guys. jangan bosen-bosen baca...
Selasa, 03 November 2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar