siang itu kita makan di rumah makan sederhana. namanya sih sederhana, tapiiiii harganya bintang lima. walaupun bayarnya berdua sih.hehehehe
"hmhm, Rey, kamu udah bilang sama orangtua kamu kita mau ke Sabang?"
"udah, aku udah bilang ke mereka. kenapa emang?"
"gapapa, biar lancar aja perjalanan. kamu udah bilang kalo aku mau nikahin kamu?"
"hahaha. kamu lucu dir" aku tatap matanya dalem-dalem, tapi gak nyeremin juga.
"kamu serius? coba bilang lagi?" malah dikiranya becanda.
"kamu udah bilang belom ke orangtua kamu kalo aku mau nikahin kamu?"
"ya belom laaaah, kamu juga baru bilang sekarang" hahaha. iya ya, pinter juga dia.
ini saatnya
"hehehe, iya sih. tapi kamunya mau gak aku nikahin? ah, sederhana banget. aku ulang. Rey, ketika aku lahir ke dunia ini aku gak sadar kalo orang yang akan aku ajak nikah akan lahir setelah aku. dan selama itu aku hidup sendiri tanpa kepastian. butuh waktu selama 6 tahun aku sekolah dasar, 6 tahun aku di pondok, dan butuh waktu 3 tahun lagi untuk menyadari bahwa kamulah yang Allah tunjukkan kepadaku. kamu mau menjadi masa depan aku, menjadi orang yang siap aku berikan pengorbanan apa yang ku punya, siap mendidik anak-anak kita, siap menjadi kebahagiaan terbesar aku karena lengkap sudah agama kita?"
dia diam sejenak.
"dir, aku orangnya gak bisa berkata-kata kayak kamu. sebenernya aku menunggu selama kurang lebih 2 tahun ini, untuk kamu ngomong gini. tanpa kamu ketahui, hari ini telah menjadi bagian hari-hari indah yang aku lewati. kalo kamu bilang aku mau gak? aku ingin menjadi kebahagiaan masa depan kamu, ingin mendidik anak-anak kita, ingin menjadi orang yang merasakan pengorbanan kamu. aku terima lamaran kamu"
"tapi...."
deg....sumpah, w merinding takut.
"hmhm, Rey, kamu udah bilang sama orangtua kamu kita mau ke Sabang?"
"udah, aku udah bilang ke mereka. kenapa emang?"
"gapapa, biar lancar aja perjalanan. kamu udah bilang kalo aku mau nikahin kamu?"
"hahaha. kamu lucu dir" aku tatap matanya dalem-dalem, tapi gak nyeremin juga.
"kamu serius? coba bilang lagi?" malah dikiranya becanda.
"kamu udah bilang belom ke orangtua kamu kalo aku mau nikahin kamu?"
"ya belom laaaah, kamu juga baru bilang sekarang" hahaha. iya ya, pinter juga dia.
ini saatnya
"hehehe, iya sih. tapi kamunya mau gak aku nikahin? ah, sederhana banget. aku ulang. Rey, ketika aku lahir ke dunia ini aku gak sadar kalo orang yang akan aku ajak nikah akan lahir setelah aku. dan selama itu aku hidup sendiri tanpa kepastian. butuh waktu selama 6 tahun aku sekolah dasar, 6 tahun aku di pondok, dan butuh waktu 3 tahun lagi untuk menyadari bahwa kamulah yang Allah tunjukkan kepadaku. kamu mau menjadi masa depan aku, menjadi orang yang siap aku berikan pengorbanan apa yang ku punya, siap mendidik anak-anak kita, siap menjadi kebahagiaan terbesar aku karena lengkap sudah agama kita?"
dia diam sejenak.
"dir, aku orangnya gak bisa berkata-kata kayak kamu. sebenernya aku menunggu selama kurang lebih 2 tahun ini, untuk kamu ngomong gini. tanpa kamu ketahui, hari ini telah menjadi bagian hari-hari indah yang aku lewati. kalo kamu bilang aku mau gak? aku ingin menjadi kebahagiaan masa depan kamu, ingin mendidik anak-anak kita, ingin menjadi orang yang merasakan pengorbanan kamu. aku terima lamaran kamu"
"tapi...."
deg....sumpah, w merinding takut.