gimana yah, ngalihin pembicaraan. terlanjur keceplosan nih. tapi w gak mau bilang sekarang "yaaaa, pas itu"
"itu apa?" dia masih aja nanya.
"alhamdulillaaah. akhirnya sampe" fiuuuuh. bagusnya udah depan rumahnya Pak Marzuki. hehehehe
tapi sekarang kok hati w deg-degan "santai aja mben. kita kan kesini mau ada urusan kantor kan? jadi tenang aja" Rey selalu bisa baca isi pikiran w dan selalu bisa nenangin itu.
"assalamu'alaikum" sebagai asisten, w bilang ke dia buat gantiin salam.hahahaha
"wa'alaikumsalam. siapa? eeeeh Ali. kira siapa. ada apa Li?" fiuuuh. ternyata kakaknya Piyu yang keluar.
"ini ka. mau ketemu Ayah (pak Marzuki) mau nyerahin berkas-berkas. ada?"
"ooowh. ada kok. ini siapa? pacar baru kamu?" deg. pacar. ya nggak lah. umur segini masih pacaran.
"ini asisten aku kak. dia temennya Piyu juga kok"
"ooowh. ayo masuk"
"kok gak dijawab?" Rey penasaran ternyata.
"yang mana?"
"kita pacaran ato bukan".
"emang harus dijawab" hahaha yes. dia penasaran.
"huh. dasar. cowok". hahaha. w ketawa lagi dalem hati. dia selalu bisa buat hati w lega. sekarang jadi gak beban lagi.
w nunggu depan rumah. "gak ada yang berubah" batin w. masih dengan taman yang sama. kolam ikan dipojokan taman. tanaman gantung berjejer di depan rumah. haaah, jadi terkenang..."lagi mikirin pas pertama kesini yaaaa?" "hehehehehehe" w cuman bisa nyengir.
"masuk dulu Li. ayah lagi di kamar. sebentar"
dalemnya juga gak berubah. dinding cat putih. lampu ruangan jaman dulu. pohon silsilah menyambut kedatangan kami di dinding sebelah kanan. meja dan kursi ukir berwarna coklat.
"fokus mbeeeen"
"makasih ya Rey. iya, aku fokus"
Sabtu, 17 Mei 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar